Halaman

Senin, 16 Desember 2013

Efektifkah Kantin Kejujuran?



Dijaman sekarang yang serba modern pun masalah kejujuran masih menjadi bahan perbincangan yang menarik. Kita harus senang atau prihatin? Apakah ini sebuah kemerostan nilai?
Seiring dengan berkembangnya zaman dan pola pikir manusia yang makin maju, lazimnya diimbangi dengan perbaikan moral kearah positif, bukan konstanitas atau bahkan kemerosotan moral. Akhir-akhir ini masalah kejujuran seperti penipuan, penggelapan, penyelundupan dan masih banyak lagi kasus-kasus yang menggambarkan kemersotan moral. Yang paling populer dan herannya makin hari makin marak adalah kasus korupsi. Hal ini semakin mencuat karena tuntutan media dalam persaingannya sehingga mereka mengekspose berita selebar mungkin sehingga berita itu cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Berbagai cara dan strategi pun ditawarkan oleh para ahli guna menangggulangi masalah ketidakjujuran ini mulai dari pendidikan karakter sampai penjatuhan hukuman berat bagi para koruptor yang saya rasa masih belum berjalan maksimal. Pendidikan karakter dalam pendidikan formal, dalam hal ini di sekolah, diidam-idamkan dapat mengatasi masalah ini, namun terkadang malah memicu lahirnya koruptor-koruptor baru. Namun demikian kita patut memberikan apresiasi juga terhadap pendidikan karakter yang sepertinya cukup efektif dalam membangun karakter bangsa.
Termasuk didalam pendidikan karakter, di sekolah-sekolah maupun universitas sering kali pendidikan karakter diimplementasikan kedalam wadah “kantin Kejujuran”. Disini siswa ataupun mahasiswa dibiasakan untuk bertindak jujur dalam membeli tanpa adanya penjaga atau penjual di kantin. Siswa bisa mengambil secara leluasa kemudian membayarnya dengan memasukkan ke dalam wadah yang sudah ditentukan.
Hal seperti diatas memang dapat membiasakan perilaku jujur karena pembeli diberi kepercayaan untuk leluasa bertransaksi sendiri. Namun tidak dapat dipungkiri bahwasanya masih banyak siswa yang tidak jujur seperti yang sudah disampaikan Bapak  Agung Ari Wibowo selaku pengelola kantin kejujuran di sebuah universitas swasta di Yogyakarta saat saya temui beberapa waktu lalu. Beliau mengeluhkan masalah ketidakjujuran mahasiswa yang tentu berdampak pada  hasil yang diperoleh kantin kejujuran. “Yang paling memprihatinkan adalah ketidakjujuran mahasiswa yang notabenenya mereka adalah golongan terpelajar” tambah Bapak Agung. Meskipun mahasiswa yang melakukan tindakakan tidak terpuji itu hanya segelintir saja namun sudah cukup untuk menurunkan citra mahasiswa sebagai golongan terpelajar.
Bisnis kantin di dalam suatu sekolah ataupun kampus memang keuntungannya sangat menggiurkankan. Meskipun ada yang tidak jujur dalam kantin kejujuran namun keuntungan yang didapat masih lumayan sehihngga pengelola kantin dapat bertahan sambil beramal. Para pengelola kantin kejujurann memiliki strategi khusus dalam mengawasi kantinnya. Meskipun peran dari kantin kejujuran tidak begitu mencolok dalam menekan angka ketidakjujuran namun inilah usaha yang bisa dilakukan sambil berbisnis sembari mencoba dan menunggu ide yang lebih efektif lagi dalam pengimplementasian pendidikan karakter.(CBA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar