Dijaman
sekarang yang serba modern pun masalah kejujuran masih menjadi bahan
perbincangan yang menarik. Kita harus senang atau prihatin? Apakah ini sebuah
kemerostan nilai?
Seiring dengan
berkembangnya zaman dan pola pikir manusia yang makin maju, lazimnya diimbangi
dengan perbaikan moral kearah positif, bukan konstanitas atau bahkan
kemerosotan moral. Akhir-akhir ini masalah kejujuran seperti penipuan,
penggelapan, penyelundupan dan masih banyak lagi kasus-kasus yang menggambarkan
kemersotan moral. Yang paling populer dan herannya makin hari makin marak
adalah kasus korupsi. Hal ini semakin mencuat karena tuntutan media dalam
persaingannya sehingga mereka mengekspose berita selebar mungkin sehingga
berita itu cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Berbagai cara
dan strategi pun ditawarkan oleh para ahli guna menangggulangi masalah
ketidakjujuran ini mulai dari pendidikan karakter sampai penjatuhan hukuman
berat bagi para koruptor yang saya rasa masih belum berjalan maksimal.
Pendidikan karakter dalam pendidikan formal, dalam hal ini di sekolah,
diidam-idamkan dapat mengatasi masalah ini, namun terkadang malah memicu
lahirnya koruptor-koruptor baru. Namun demikian kita patut memberikan apresiasi
juga terhadap pendidikan karakter yang sepertinya cukup efektif dalam membangun
karakter bangsa.
Termasuk
didalam pendidikan karakter, di sekolah-sekolah maupun universitas sering kali
pendidikan karakter diimplementasikan kedalam wadah “kantin Kejujuran”. Disini siswa
ataupun mahasiswa dibiasakan untuk bertindak jujur dalam membeli tanpa adanya penjaga
atau penjual di kantin. Siswa bisa mengambil secara leluasa kemudian
membayarnya dengan memasukkan ke dalam wadah yang sudah ditentukan.
Hal seperti
diatas memang dapat membiasakan perilaku jujur karena pembeli diberi
kepercayaan untuk leluasa bertransaksi sendiri. Namun tidak dapat dipungkiri
bahwasanya masih banyak siswa yang tidak jujur seperti yang sudah disampaikan
Bapak Agung Ari Wibowo selaku pengelola
kantin kejujuran di sebuah universitas swasta di Yogyakarta saat saya temui
beberapa waktu lalu. Beliau mengeluhkan masalah ketidakjujuran mahasiswa yang
tentu berdampak pada hasil yang diperoleh
kantin kejujuran. “Yang paling memprihatinkan adalah ketidakjujuran mahasiswa
yang notabenenya mereka adalah golongan terpelajar” tambah Bapak Agung.
Meskipun mahasiswa yang melakukan tindakakan tidak terpuji itu hanya segelintir
saja namun sudah cukup untuk menurunkan citra mahasiswa sebagai golongan terpelajar.
Bisnis kantin
di dalam suatu sekolah ataupun kampus memang keuntungannya sangat menggiurkankan.
Meskipun ada yang tidak jujur dalam kantin kejujuran namun keuntungan yang
didapat masih lumayan sehihngga pengelola kantin dapat bertahan sambil beramal.
Para pengelola kantin kejujurann memiliki strategi khusus dalam mengawasi
kantinnya. Meskipun peran dari kantin kejujuran tidak begitu mencolok dalam
menekan angka ketidakjujuran namun inilah usaha yang bisa dilakukan sambil
berbisnis sembari mencoba dan menunggu ide yang lebih efektif lagi dalam
pengimplementasian pendidikan karakter.(CBA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar